Pages

October 13, 2010

asertif dan membuang sampah

asertif dan membuang sampah? apa kaitannya? bagi saya ada.

sejak kecil saya diajarkan orang tua saya, khususnya bapak saya, untuk selalu membuang sampah pada tempat sampah. alhamdulillah kebiasaan ini bertahan hingga saat ini.

jika sedang di jalan raya, berada di dalam mobil, ada sampah yang ingin dibuang, saya taruh dulu di mobil, biasanya menyiapkan plastik kresek di dalam mobil, baik ketika mobil sedang melaju atau sedang berhenti.
jika sedang berada di jalan, ada sesuatu yang ingin saya buang, bungkus permen, tisu bekas, sobekan kertas, atau hal-hal lain, saya akan menyimpannya dulu di tas atau di kantong celana saya.
jika ketika berjalan kaki, sehabis saya makan atau minum sesuatu dan bungkusnya perlu dibuang dan tidak muat atau tidak bisa disimpan di dalam tas atau kantung, saya akan memegangnya dan mencari tempat sampah terdekat.
intinya dalam segala situasi dan kondisi, saya berusaha untuk tidak membuang sampah sembarangan dan membuangnya di tempat sampah.

lagipula menurut saya hal tersebut tidak sulit dilakukan. sekedar menyimpan sampah di dalam tas atau di kantung celana saya saja dan mengosongkannya ketika menemukan tempat sampah atau ketika sampai di rumah. sangat tidak sulit.

tapi tidak dengan yang saya lihat di jalan.
situasi 1: saya sedang menunggu bus di halte Slipi Jaya. berdiri. di depan saya berdiri seorang wanita, rasanya sedikit lebih tua dari saya. membuka tasnya, mengambil permen, membuka bungkus permen, memasukkan permen ke dalam mulutnya, dan membuang bungkus permen tersebut ke jalan. tanpa sembunyi. tanpa merasa bersalah.

situasi 2: saya (lagi-lagi) sedang menunggu bus di depan Alfamart di daerah Kober. di serong depan kanan saya terdapat mobil yang sedang parkir. sepertinya pengendara dan penumpang mobil ini baru selesai berbelanja. dan saya lihat wanita (lagi-lagi wanita?!), yang duduk di kursi sebelah pengemudi, sedang makan. sepertinya makan gorengan yang biasa dpat dibeli di pinggir jalan. tidak lama dia membuka jendela mobilnya dan membuang sampah keluar jendela mobilnya. saya perhatikan, setelahnya ia celingak-celinguk ke kanan dan kiri, mungkin mengecek ada yang melihatnya atau tidak. tapi dia tidak melihat saya yang ada di pandangan depannya.

kenapa ya, susah sekali untuk membuang-sampah-pada-tempatnya? itu pikiran saya terhadap mereka yang membuang sampah sembarangan.
sedangkan untuk saya, kenapa ya, susah sekali untuk menegur mereka yang membuang sampah sembarangan? mungkin dengan menegur mereka, mereka sadar, dan memperbaiki tingkah laku tersebut (tidak semudah ini memang mengubah perilaku seseorang, apalagi jika sudah menetap lama).
tapi saya jadi merasa diri saya tidak membantu membersihkan lingkungan dengan membiarkan mereka, orang di sekitar saya, membuang sampah sembarangan.

pada kedua situasi tersebut, ingin sekali saya melakukan:
mengambil sampah yang dibuang, memanggil si-pembuang-sampah-sembarangan, memberikan sampahnya, sambil berkata, "Mba, barangnya jatoh nih."
atau yang sedikit menyindir, "Aduh mba, mba saya liatin cakep si, tapi kok buang sampah sembarangan ya?" *se-menyindir-nyindirnya saya, sepertinya masih ngga nyelekit-nyelekit amat kok :)*

oh iya, dan yang saya ingat, pada dua situasi di atas (keduanya kisah nyata, pengalaman saya langsung), kondisi jalan masih sangat BERSIH. terima kasih untuk para bapak atau ibu sapu jalan. tapi tidak harus menggantungkan kepada mereka untuk menjaga kebersihan, kan?!
kapan ya saya bisa asertif menyampaikan pendapat saya dan keinginan saya untuk meminta orang lain membuang sampah pada tempatnya? *teringat tugas pelatihan kelompok saya yang mengambil tingkah laku asertif untuk dikembangkan dalam program pelatihan, sedangkan saya sebagai pembuat program belum mengembangkan kemampuan ASERTIF saya.

*simbol pada logo membuang sampah selalu menggambarkan laki-laki, tapi hal ini berlaku untuk perempuan juga kan?!


2 comments:

  1. berikut referensi tentang ber perilaku asertif :
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1240/1/10507299.pdf

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...