Pages

October 20, 2010

self-disclosure

sejujurnya ini adalah tugas kuliah gw. jadi tugasnya adalah untuk menganalogikan diri sendiri menjadi beberapa hal yang diminta ini. tugas ini juga sebagai salah satu cara self-disclosure (pengungkapan diri).
sebelumnya gw ngga mau posting ini blog, tapiiii..ditantang temen gw untuk posting, baru dia mau posting punya dia sendiri (sebenernya bukan ditantang juga si, tapi gw penasaran sama punya dia dan pengen baca.hehehe) okay! this is it *ala farah quinn* ;)

makanan favorit
Saya adalah buah jeruk yang berwarna jingga segar dan ceria. Saya pun seperti itu. ceria, saya penuh semangat, membawa ‘kesegaran’ dalam suasana yang saya hadiri. Untuk memakannya, beberapa jenis jeruk perlu kupas dulu kulitnya (yang lainnya kalaupun tidak dikupas, tidak akan kulitnya dimakan. Sama seperti saya, terkadang saya tidak selalu ceria, perlu dekat sedikit lebih lama. Jeruk pun ada yang manis, asam/ kecut, atau terkadang hambar. Tidak jauh beda dengan saya. saya dapat menjadi sangat ‘manis’ dan terkadang juga bisa menjadi ‘asam/ kecut’ juga ‘hambar’.

pesan orang tua
Tersenyum Itu yang sering orang tua saya katakan, terutama ketika terlihat ada yang sedang cemberut, memanyunkan bibir. Senyum. Hadir untuk meringankan suasana, menentramkan hati, menyejukkan jiwa. Saya (berharap akan bisa terus) seperti itu.

peristiwa

Saya seperti gunung berapi yang letusannya sering tertahan Namun begitu meletus, cukup berbahaya. Saya tidak suka marah. Saya sulit marah. Marah di sini marah yang membentak-bentak. Namun ketika akhirnya saya marah, saya kecewa, atau ketika emosi-emosi negatif berkumpul, saya bisa meluapkannya langsung, biasanya melalui tangisan. Dan cukup sekali atau beberapa kali tapi hanya dalam jangka waktu yang cukup singkat. Dan akhirnya saya akan kembali ‘tenang’ atau baik lagi.

seseorang

Saya seperti diri saya Saya unik. Saya berbeda sekaligus mirip dengan banyak orang. Ada hal yang sangat ciri khas saya, namun beberapa hal saya sama dengan yang lainnya.

tempat yang aman dan damai

Saya adalah pantai yang tidak diketahui banyak orang. Untuk menuju ke sini, hanya beberapa orang, yang sudah mengenal jalan menuju ke tempat ini, yang bisa sampai ke tempat ini. Tidak sulit, tapi membutuhkan usaha. Begitu sampai ke pantai ini, orang-orang dapat menaiki perahu kecil dengan layar, untuk sedikit bermain ke laut. Perahu tersebut dapat bergerak dengan angin. Ya, saya seperti pantai yang banyak angin bertiup. Angin-angin tersebut mengantarkan perahu layar untuk berlayar menuju laut. Saya pun ‘mengantarkan’ orang-orang terdekat saya menuju impian mereka. Saya men-suport mereka semampu yang saya bisa.

barang berharga yang tidak akan diberikan pada siapapun

Benda-benda berwarna jingga yang saya kumpulkan Banyak macamnya, beraneka jenis. Dikumpulkan sedikit demi sedikit dan bertahap. Begitu pula dengan mengenal saya, tidak perlu langsung mengenal semua hal, tapi lalui waktu bersama saya dan lama-lama Anda akan mengetahui diri saya.

kejadian yang berulang setiap hari

Saya seperti lemari baju yang membuat banyak baju, celana, rok, jaket, kerudung, dan semua sebutan sandang Banyak pilihannya, banyak ragamnya, banyak macamnya, dan tentu beraneka warnanya. Harus pintar-pintar memilih pasangan dan memadu-padankan pakaian yang sesuai. Banyak pilihan, kadang membuat sulit menentukan. Begitulah saya menghabiskan waktu, yang seringnya lama, berdiri memandangi baju dan segala macam temannya itu. Seperti hubungan saya dan pengambilan keputusan. Banyak menimbang (kadang terlalu banyak) apa yang akan terjadi nantinya.

yang dilihat dalam perjalanan menuju kampus

Saya adalah pohon besar yang ada di sepanjang jalan setapak balai hutan (balhut) Rindangnya meneduhi terik matahari. Berjalan di jalan setapak ini, tidak semua orang akan menyadari saya, tapi mereka merasakan sejuknya. Tidak semua orang mengenal saya, tapi mudah-mudahan saya bermanfaat bagi mereka.

tempat yang ingin didatangi kembali

Saya adalah ketinggian di bukit Lembang Dari ketinggian tersebut, dapat dilihat pemandangan kota di bawahnya yang merupakan keindahan kota di malam hari dengan berhiaskan terangnya sinar lampu dari rumah-rumah. Saya melihat hal positif dari berbagai aspek. Mungkin di kota bawah sana banyak hal buruk terjadi. Tapi saya mengusahakan melihat dari ‘atas’ dan mencoba menemukan sisi positif dari peliknya hidup ini.

segi positif diri sendiri

Saya adalah kecerian yang hadir ketika tawa terangkai antara saya dan kalian Mungkin saya yang kalian bilang membawa tawa itu. Tapi sesungguhnya saya hanya membantu/ memediasi bagaimana tawa itu dapat muncul. Tawa itu hadir karena ada kita, saya dan kalian, yang masih saling ingin menghibur, mengejek, menjahili. Itu ada antara kita.

segi negatif diri sendiri

Lekukan mulut ke bawah, mata yang menunjukkan ketidaknyamanan, gestur, dan tingkah laku nonverbal yang muncul, itu saya Ketika hati ingin berkata tidak, ketika nyaman mulai menghilang, ketika rasa ktak senang, dan kecewa mulai hadir. Itu semua ‘tertuang’ dalam ekspresi muka dan bahasa tubuh saya. Saya hanya tak bisa menyampaikannya lewat kata.

harapan dalam hidup

Cinta. Untuk Sang Pencipta, keluarga, teman, dia, dan saya sendiri. Rasa yang paling membawa kebahagiaan. Itulah saya, penuh cinta untuk saya berikan di dunia.
agak dangdut yah?! hahaha..
yaudah.. gw tunggu posting-an lo, nyak! :)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...